Minggu, 15 Maret 2009

Kalau Kau Lupakan Aku
(Pablo Neruda)

Aku mau kau tahu satu hal.
Kau tahu bagaimana rasanya:kalau aku memandang bulan kristal, di ranting merah musim gugur yang bergerak lambat di jendelaku,kalau aku sentuh di dekat perapian abu lembut atau tubuh keriput kayu,semuanya membawaku padamu,seolah semua yang ada,aroma, cahaya, logam,adalah kapal kapal kecil yang berlayar menuju pulau pulaumu yang menungguku itu.
Jadi, sekarang,kalau sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku aku akan berhenti mencintaimu sedikit demi sedikit.
Kalau tiba tiba kau melupakan ku jangan cari aku,karena aku pasti sudah akan melupakanmu.
Kalau kau pikir panjang dan gila angin panji panji yang berlalu dalam hidupku,dan kau putuskan untuk meninggalkanku di pantai hati di mana akarku berada,ingatlah hari itu juga,jam itu juga,aku akan melepaskan tanganku dan akarku akan berlayar mencari negeri baru.
Tapi kalau setiap hari,setiap jam,kau rasa kau memang ditakdirkan untukku dengan kelembutan yang tak terkira,kalau setiap hari sebuah bunga naik ke bibirmu mencariku,ah sayangku, kekasihku,dalam diriku semua api itu akan terbalas,dalam diriku tak ada yang akan padam atau terlupakan,cintaku hidup dari cintamu, kekasihku,dan selama kau hidup cintaku akan terus dalam rangkulanmu tanpa meninggalkanku.

Senin, 09 Maret 2009

Istana Umar bin Khattab

"Dimanakan istana raja negeri ini?" tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah."Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu," jawab lelaki yang ditanya.Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, "Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab," tanyanya.Lelaki yang ditanya bangkit, "Akulah Umar bin Khattab."Yahudi itu terbengong-bengong, "Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini," katanya menegaskan."Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini," kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi."Di manakah istana tuan?" tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.Khalifah Umar bin Khattab menuding, "Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir.""Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?""Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah."Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. "Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati."Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.