Kalau Kau Lupakan Aku
(Pablo Neruda)
Aku mau kau tahu satu hal.
Kau tahu bagaimana rasanya:kalau aku memandang bulan kristal, di ranting merah musim gugur yang bergerak lambat di jendelaku,kalau aku sentuh di dekat perapian abu lembut atau tubuh keriput kayu,semuanya membawaku padamu,seolah semua yang ada,aroma, cahaya, logam,adalah kapal kapal kecil yang berlayar menuju pulau pulaumu yang menungguku itu.
Jadi, sekarang,kalau sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku aku akan berhenti mencintaimu sedikit demi sedikit.
Kalau tiba tiba kau melupakan ku jangan cari aku,karena aku pasti sudah akan melupakanmu.
Kalau kau pikir panjang dan gila angin panji panji yang berlalu dalam hidupku,dan kau putuskan untuk meninggalkanku di pantai hati di mana akarku berada,ingatlah hari itu juga,jam itu juga,aku akan melepaskan tanganku dan akarku akan berlayar mencari negeri baru.
Tapi kalau setiap hari,setiap jam,kau rasa kau memang ditakdirkan untukku dengan kelembutan yang tak terkira,kalau setiap hari sebuah bunga naik ke bibirmu mencariku,ah sayangku, kekasihku,dalam diriku semua api itu akan terbalas,dalam diriku tak ada yang akan padam atau terlupakan,cintaku hidup dari cintamu, kekasihku,dan selama kau hidup cintaku akan terus dalam rangkulanmu tanpa meninggalkanku.
Minggu, 15 Maret 2009
Senin, 09 Maret 2009
Istana Umar bin Khattab
"Dimanakan istana raja negeri ini?" tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah."Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu," jawab lelaki yang ditanya.Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, "Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab," tanyanya.Lelaki yang ditanya bangkit, "Akulah Umar bin Khattab."Yahudi itu terbengong-bengong, "Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini," katanya menegaskan."Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini," kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi."Di manakah istana tuan?" tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.Khalifah Umar bin Khattab menuding, "Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir.""Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?""Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah."Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. "Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati."Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.
"Dimanakan istana raja negeri ini?" tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah."Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu," jawab lelaki yang ditanya.Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, "Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab," tanyanya.Lelaki yang ditanya bangkit, "Akulah Umar bin Khattab."Yahudi itu terbengong-bengong, "Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini," katanya menegaskan."Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini," kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi."Di manakah istana tuan?" tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.Khalifah Umar bin Khattab menuding, "Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir.""Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?""Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah."Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. "Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati."Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.
Senin, 23 Februari 2009
Jiwa Tergenggam
(Pablo Neruda)
Kita bahkan kehilangan senja ini.Tak ada yang melihat kita jalan bergandengan tangansementara malam biru ambruk ke dunia.Aku lihat dari jendelaku
matahari tenggelam berpesta di puncak puncak pegunungan yang jauh.Kadang-kadang sepotong matahari terbakar seperti sebuah uang koin di tanganku.Aku mengenangmu dengan jiwaku tergenggam dalam kesedihanku yang sudah kau tahu itu.Di mana kau waktu itu?Ada siapa lagi di situ?Bilang apa?Kenapa cinta mendatangiku tiba tiba di saat aku sedih dan merasa kau betapa jauhnya?Terjatuh buku yang biasanya ditutup setelah senja tiba
Dan sweater biruku terlipat seperti seekor anjing terluka di kakiku.Selalu, selalu kau mengabur lewat malam menuju patung patung yang menghapus senja.
Dan sweater biruku terlipat seperti seekor anjing terluka di kakiku.Selalu, selalu kau mengabur lewat malam menuju patung patung yang menghapus senja.
Selasa, 17 Februari 2009
Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai
Jalaludin Rumi
Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
Jalaludin Rumi
Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
Ode bagi perempuan sedang berkebun
Pablo neruda
Ya, aku tahu tanganmu adalahrebung merecup, serumpun liliberdaun perak:ada yang harus engkau lakukandengan tanah itu,dengan bumi yang berbunga,tapiketikakulihat engkau menggali, menggali,mengeyahkan kerikildan menuntun arah akar-akaraku tahu seketika itu,perempuanku yang sedang berkebun,bahwatidak hanyatanganmutapi juga hatimutelah menyentuh bumi,karena di sanaengkaumenciptakanbenda-bendamu,menyentuhkelembabanpintumelalui jalandi manabenih-benihmenebar.
Maka pada jalan inidari satu tanamanke yang lainsatu tanaman yangbaru saja ditanam,dengan wajahmudibekasiciumandari tanah liat,engkau pergilalu datang lagimemekarkan bunga,engkau pergidari tanganmubatang utama tajukastromeriamembangkitkan sosok sendirinyayang anggun,mawar mengharumkankabut di keningmudengan wangi dan bintang-bintang embun.
Segalanya tumbuhdarimumenembus bumidan menjelma jadicahaya hijau,daun dan kekuatanengkau mengatakanapa yang ingin disebutkan olehbenih-benihmu padanya,kekasihku,perempuan merah yang sedang berkebun:tanganmu yang berkerabatdengan bumidan tumbuh cemerlangadalah kesertamertaan
Cinta, pun demikianadalah air tanganmubumi hatimu,memberikesuburandan kekuatan pada lagukukau sentuhdadakusementara aku terlelapdan pohon-pohon berbungadalam mimpiku.
Aku terbangun, membuka mata,dan engkau telah adadi sisikubintang-bintang dalam bayangyang kelak datang dan terangdalam laguku.
Begitulah, perempuan yang sedang berkebun:cinta kitamembumi:mulutmu adalah tanaman cahaya,sebuah mahkota bunga, danhatiku menjaga di antara akar-akarnya.
Pablo neruda
Ya, aku tahu tanganmu adalahrebung merecup, serumpun liliberdaun perak:ada yang harus engkau lakukandengan tanah itu,dengan bumi yang berbunga,tapiketikakulihat engkau menggali, menggali,mengeyahkan kerikildan menuntun arah akar-akaraku tahu seketika itu,perempuanku yang sedang berkebun,bahwatidak hanyatanganmutapi juga hatimutelah menyentuh bumi,karena di sanaengkaumenciptakanbenda-bendamu,menyentuhkelembabanpintumelalui jalandi manabenih-benihmenebar.
Maka pada jalan inidari satu tanamanke yang lainsatu tanaman yangbaru saja ditanam,dengan wajahmudibekasiciumandari tanah liat,engkau pergilalu datang lagimemekarkan bunga,engkau pergidari tanganmubatang utama tajukastromeriamembangkitkan sosok sendirinyayang anggun,mawar mengharumkankabut di keningmudengan wangi dan bintang-bintang embun.
Segalanya tumbuhdarimumenembus bumidan menjelma jadicahaya hijau,daun dan kekuatanengkau mengatakanapa yang ingin disebutkan olehbenih-benihmu padanya,kekasihku,perempuan merah yang sedang berkebun:tanganmu yang berkerabatdengan bumidan tumbuh cemerlangadalah kesertamertaan
Cinta, pun demikianadalah air tanganmubumi hatimu,memberikesuburandan kekuatan pada lagukukau sentuhdadakusementara aku terlelapdan pohon-pohon berbungadalam mimpiku.
Aku terbangun, membuka mata,dan engkau telah adadi sisikubintang-bintang dalam bayangyang kelak datang dan terangdalam laguku.
Begitulah, perempuan yang sedang berkebun:cinta kitamembumi:mulutmu adalah tanaman cahaya,sebuah mahkota bunga, danhatiku menjaga di antara akar-akarnya.
Kamis, 12 Februari 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
